Radikalisme tak lahir begitu saja. Ia tumbuh dalam ruang-ruang kosong yang tak terisi oleh kasih sayang, pemahaman agama yang sejuk, dan teladan yang menumbuhkan. Dalam banyak kasus, benih paham ekstrem muncul justru karena seseorang merasa tersisih, tak dimengerti, atau tidak punya pegangan hidup yang kuat.
Dan semua itu… sering kali berakar dari rumah.
Ya, keluarga adalah madrasah pertama dan utama. Di sanalah seorang anak mengenal nilai, belajar membedakan benar dan salah, serta menyerap pola berpikir dan sikap hidup.
Maka jika kita ingin bangsa ini bebas dari radikalisme, kita tak cukup hanya mengandalkan sekolah dan pemerintah. Kita harus mulai dari membangun keluarga yang mendidik dengan cinta dan hikmah.
Apa yang bisa dilakukan keluarga?
- Ajarkan Islam secara utuh, bukan terpotong-potong.
Jangan hanya menekankan “kewajiban”, tetapi juga “hikmah”. Jangan hanya berbicara soal “pahala dan neraka”, tetapi juga tentang “rahmat dan keadilan Allah”. - Biasakan berdiskusi, bukan menghakimi.
Anak-anak yang dibesarkan dengan ruang tanya akan tumbuh jadi pribadi kritis, bukan fanatik buta. Mereka akan lebih kuat terhadap pengaruh luar yang menyesatkan. - Tunjukkan keteladanan.
Jangan larang anak berbohong jika orang tuanya sendiri sering berdusta. Jangan suruh anak salat jika kita sendiri malas berjamaah. Anak belajar dari contoh, bukan perintah. - Bangun suasana damai di rumah.
Rumah yang penuh pertengkaran, kekerasan, dan teriakan akan melahirkan jiwa-jiwa terluka. Jiwa seperti inilah yang mudah ditarik ke dalam ideologi kebencian.
Ingatlah…
Radikalisme tidak akan tumbuh subur dalam keluarga yang sehat secara emosional, spiritual, dan intelektual. Anak-anak yang tumbuh dalam pelukan kasih sayang, dididik dengan nilai-nilai Qur’ani, dan dibiasakan berpikir jernih — akan menjadi generasi yang tangguh, damai, dan bijak dalam perbedaan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah (suci). Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan sekadar peringatan, tetapi juga pengingat tanggung jawab besar kita sebagai orang tua dan pendidik.
Penutup
Mari jadikan rumah kita benteng pertama melawan radikalisme — bukan dengan teriakan, tapi dengan pelukan. Bukan dengan paksaan, tapi dengan penanaman nilai. Bukan dengan ketakutan, tapi dengan cinta.
Karena generasi damai… lahir dari keluarga yang damai.
Dr. H. Najamudin, M.Pd.I
Dosen Pendidikan Agama Islam
Universitas Ibn Khaldun Bogor
Universitas UMMI Bogor