Bukan Sekadar Pertemuan
Ada sebuah pertanyaan yang sesungguhnya sederhana, tetapi sangat mendasar:
Untuk apa kita datang ke UPA?
Apakah sekadar agar setiap pekan ada pertemuan?
Apakah agar materi demi materi selesai disampaikan?
Apakah agar daftar hadir tetap penuh?
Apakah agar struktur pembinaan tetap berjalan?
Ataukah agar kita tetap berada dalam sebuah lingkaran yang telah lama kita kenal?
Semua itu penting.
Namun, jangan sampai kita sibuk menjaga wadah, tetapi lupa pada isi.
Jangan sampai kita sibuk mempertahankan pertemuan, tetapi lupa mempertanyakan perubahan.
Sebab UPA bukanlah tujuan akhir.
UPA adalah sarana. UPA adalah madrasah. UPA adalah ruang penempaan jiwa.
Dan keberhasilan sebuah madrasah tidak semata-mata diukur dari berapa lama seseorang duduk di dalamnya, berapa banyak materi yang telah diselesaikan, atau berapa banyak pertemuan yang telah dilaksanakan.
Keberhasilannya diukur dari:
Manusia seperti apa yang lahir setelah melewati proses pendidikan tersebut.
Maka pertanyaan yang lebih penting bukan:
“Berapa banyak materi yang sudah kita pelajari?”
Tetapi:
“Seberapa jauh ilmu itu telah mengubah diri kita?”
⸻
Ilmu yang Turun Menjadi Amal
Kita bisa mengetahui banyak hal tentang Islam.
Kita bisa berbicara tentang iman.
Kita bisa menjelaskan ikhlas.
Kita bisa menguraikan sabar.
Kita bisa berbicara tentang ukhuwah.
Kita dapat menjelaskan pentingnya qiyamullail.
Kita dapat menyampaikan keutamaan membaca Al-Qur’an.
Namun, pengetahuan tentang kebaikan tidak otomatis membuat seseorang menjadi baik.
Seseorang dapat mengetahui makna sabar tetapi masih mudah marah.
Dapat berbicara tentang ukhuwah tetapi sulit memaafkan.
Dapat menjelaskan ikhlas tetapi kecewa ketika tidak dihargai.
Dapat berbicara tentang pengorbanan tetapi masih berat meninggalkan kenyamanan.
Di sinilah kita memahami bahwa tarbiyah bukan sekadar ta‘līm.
Tarbiyah harus bergerak dari:
ilmu → kesadaran → kemauan → amal → kebiasaan → akhlak → kepribadian.
Allah SWT berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams: 9–10)
Karena itu, ukuran keberhasilan tarbiyah bukan sekadar bertambahnya pengetahuan, tetapi bertumbuhnya kualitas jiwa.
⸻
Dari Ta‘līm Menuju Tazkiyah
Allah SWT menjelaskan salah satu misi Rasulullah ﷺ:
يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
“Yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah.”
(QS. Al-Jumu‘ah: 2)
Ada dimensi tazkiyah di dalam proses pendidikan Islam.
Tazkiyah berarti membersihkan dan menumbuhkan.
Membersihkan hati dari kesombongan.
Membersihkan jiwa dari iri.
Membersihkan diri dari riya.
Membersihkan orientasi dari kecintaan berlebihan kepada dunia.
Sekaligus menumbuhkan:
keikhlasan,
kesabaran,
ketawadhuan,
kasih sayang,
keberanian,
kedisiplinan,
dan semangat berkhidmat.
Maka UPA yang hidup bukanlah UPA yang hanya membuat kita semakin banyak tahu.
Tetapi UPA yang membuat kita semakin:
takut kepada Allah,
cinta kepada Allah,
dekat kepada Allah,
taat kepada Allah,
dan bermanfaat bagi manusia karena Allah.
⸻
Tazkiyah Tidak Selalu Nyaman
Tazkiyah adalah perjalanan yang indah, tetapi tidak selalu nyaman.
Sebab yang sedang ditempa adalah jiwa.
Dan jiwa memiliki kecenderungan untuk mencintai kenyamanan.
Ia ingin dipuji.
Ia ingin dihormati.
Ia ingin didahulukan.
Ia ingin pendapatnya diterima.
Ia ingin dianggap penting.
Ia ingin mendapatkan posisi.
Ia ingin orang lain memahami dirinya.
Tetapi belum tentu ia selalu siap memahami orang lain.
Karena itu, proses tarbiyah terkadang menghadirkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita.
Di situlah kita belajar:
apakah kita mengikuti kebenaran atau mengikuti ego?
Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)
Mujāhadah berarti bersungguh-sungguh.
Melawan kemalasan.
Melawan ego.
Melawan hawa nafsu.
Melawan keinginan untuk selalu dipuji.
Melawan kecenderungan untuk hanya mengambil tanpa memberi.
Karena itu, tarbiyah membutuhkan riyāḍah—latihan yang terus-menerus.
⸻
UPA sebagai Laboratorium Kehidupan
UPA jangan hanya menjadi tempat membicarakan nilai-nilai.
UPA harus menjadi tempat melatih nilai-nilai tersebut.
Berbicara tentang disiplin berarti belajar datang tepat waktu.
Berbicara tentang ukhuwah berarti hadir ketika saudara membutuhkan.
Berbicara tentang kepedulian berarti mau mendengar kesulitan orang lain.
Berbicara tentang itsar berarti belajar mendahulukan saudara.
Berbicara tentang ikhlas berarti tetap bekerja meskipun nama kita tidak disebut.
Berbicara tentang tadhḥiyah berarti memberikan waktu, tenaga, pikiran, harta, bahkan kenyamanan.
Berbicara tentang kesehatan berarti menjaga tubuh sebagai amanah Allah.
Sebab:
Nilai yang tidak pernah dilatih hanya akan menjadi teori.
Tarbiyah ingin menjadikan teori sebagai sulūk.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling terus-menerus dilakukan meskipun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka yang dicari bukan sekadar ledakan semangat sesaat.
Yang dicari adalah istiqamah.
⸻
Dari Tazkiyah Menuju Mujāhadah
Tazkiyah membersihkan jiwa.
Mujāhadah melatih jiwa.
Riyāḍah membiasakan jiwa.
Istiqāmah menguatkan jiwa.
Kemudian jiwa yang kuat itu siap memikul amanah.
Inilah proses yang sering kali tidak terlihat.
Orang mungkin hanya melihat seorang kader hadir dalam kegiatan.
Tetapi mereka tidak melihat berapa banyak pergulatan batin yang terjadi di dalam dirinya.
Tidak melihat bagaimana ia belajar menahan marah.
Tidak melihat bagaimana ia belajar menerima kritik.
Tidak melihat bagaimana ia memaksa dirinya bangun ketika malas.
Tidak melihat bagaimana ia memilih amanah daripada kenyamanan.
Tidak melihat bagaimana ia belajar memaafkan.
Tidak melihat bagaimana ia belajar bekerja tanpa menunggu penghargaan.
Padahal di situlah sebenarnya jiwa sedang ditempa.
⸻
Dari Tazkiyah Menuju Harakah
Namun, tazkiyah tidak boleh berhenti pada kesalehan pribadi.
Seorang muslim tidak ditarbiyah hanya agar dirinya baik.
Ia juga ditarbiyah agar menghadirkan kebaikan.
Inilah perbedaan antara shalih dan mushlih.
Orang shalih berusaha memperbaiki dirinya.
Orang mushlih berusaha memperbaiki dirinya sekaligus menghadirkan perbaikan di sekelilingnya.
Allah SWT berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ
“Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan.”
(QS. Ali ‘Imran: 104)
Maka semakin dekat seseorang kepada Allah, semestinya semakin besar kepeduliannya terhadap manusia.
Semakin dalam ruhiyahnya, semakin besar semangat khidmahnya.
Semakin bersih hatinya, semakin luas kasih sayangnya.
Semakin kuat hubungannya dengan Allah, semakin kuat pula dorongannya untuk menghadirkan kemaslahatan.
Di sinilah tazkiyah bertemu dengan harakah.
Tazkiyah membersihkan sumber gerak.
Tarbiyah mengarahkan gerak.
Harakah membawa gerak itu ke tengah kehidupan.
⸻
Ruhiyah dan Aktivitas Harus Bertemu
Kita tidak ingin melahirkan manusia yang:
khusyuk tetapi tidak bergerak,
atau:
bergerak tetapi kehilangan kekhusyukan.
Kita membutuhkan manusia yang:
hatinya hidup bersama Allah dan kakinya aktif berjalan di tengah manusia.
Ia lama bersujud pada malam hari,
tetapi panjang langkahnya pada siang hari.
Ia menangis ketika membaca Al-Qur’an,
tetapi air matanya berubah menjadi kasih sayang kepada manusia.
Ia mengingat akhirat,
tetapi semakin bersungguh-sungguh memperbaiki kehidupan.
Ia dekat dengan Allah,
tetapi semakin dekat pula dengan manusia yang membutuhkan pertolongan.
Inilah keseimbangan yang harus lahir dari tarbiyah.
⸻
Datang untuk Diisi, Pulang untuk Memberi
Karena itu, jangan sampai UPA menjadi tempat kita hanya menerima.
Kita datang untuk diisi—
agar pulang membawa sesuatu yang dapat diberikan.
Kita datang untuk dikuatkan—
agar pulang mampu menguatkan.
Kita datang untuk diingatkan—
agar pulang mampu mengingatkan.
Kita datang untuk dibina—
agar suatu hari mampu membina.
Inilah salah satu tanda bahwa tarbiyah bergerak maju.
Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Karena itu, setelah selesai UPA jangan hanya bertanya:
“Apa yang saya dapatkan?”
Tetapi bertanyalah:
“Apa yang dapat saya berikan?”
Siapa yang dapat saya bantu?
Siapa yang dapat saya rangkul?
Siapa yang sedang lemah?
Siapa yang membutuhkan nasihat?
Siapa yang membutuhkan sahabat?
Siapa yang dapat saya ajak mengenal Allah?
Siapa yang dapat saya bina?
Siapa yang suatu hari dapat meneruskan kebaikan setelah saya tiada?
⸻
Dakwah adalah Proses Pewarisan Kebaikan
Dakwah tidak berhenti pada satu generasi.
Ia harus diwariskan.
Dari guru kepada murid.
Dari pembina kepada mutarabbi.
Dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim)
Betapa indahnya.
Kebaikan dapat melampaui usia kita.
Mungkin kita tidak selamanya berada di tengah mereka.
Tetapi nilai yang kita tanam dapat terus hidup.
Mungkin suatu hari kita tidak lagi hadir dalam lingkaran.
Tetapi manusia yang pernah kita bina masih melanjutkan perjuangan.
Mungkin suara kita sudah tidak terdengar.
Tetapi pesan kebaikan yang pernah kita sampaikan masih berjalan.
Inilah salah satu makna terdalam dari tawallud da‘wi:
Melahirkan manusia yang mampu melahirkan kebaikan berikutnya.
⸻
Ukurlah UPA dari Buahnya
Karena itu, keberhasilan UPA tidak cukup diukur dari:
berapa kali pertemuan berlangsung,
berapa banyak materi disampaikan,
berapa banyak peserta hadir,
atau berapa banyak agenda terlaksana.
Ukurlah dari buahnya.
Apakah shalat semakin baik?
Apakah Al-Qur’an semakin dicintai?
Apakah akhlak semakin indah?
Apakah hubungan dengan keluarga semakin baik?
Apakah semakin mudah menerima nasihat?
Apakah semakin ringan meminta maaf?
Apakah ukhuwah semakin dalam?
Apakah amanah semakin kuat?
Apakah disiplin semakin baik?
Apakah tubuh semakin dijaga?
Apakah semakin ringan berkhidmat?
Dan pertanyaan berikutnya:
Siapa yang sedang ia dekati?
Siapa yang sedang ia ajak kepada Allah?
Siapa yang sedang ia bina?
Kebaikan apa yang sedang ia gerakkan?
Inilah pertanyaan yang menjadikan tarbiyah memiliki orientasi kehidupan.
⸻
Ketika Amanah dan Kedudukan Berubah
Dakwah adalah perjalanan panjang.
Ada masa seseorang berada di depan.
Ada masa ia berada di belakang.
Ada masa ia diberi amanah.
Ada masa amanah itu berpindah kepada orang lain.
Ada masa ia dipuji.
Ada masa ia dilupakan.
Ada masa pendapatnya didengar.
Ada masa tidak seorang pun meminta pendapatnya.
Jika seseorang bergerak karena kedudukan, ia akan berhenti ketika kedudukan hilang.
Jika ia bekerja karena pujian, ia akan kecewa ketika tidak dihargai.
Jika ia berkhidmat karena manusia, ia akan lelah ketika manusia mengecewakannya.
Tetapi jika orientasi hidupnya adalah:
لِلَّهِ
“Untuk Allah.”
maka ketika semuanya hilang,
Allah tetap ada.
Inilah inti keikhlasan.
Allah SWT berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-An‘am: 162)
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang ibadah ritual.
Ia berbicara tentang orientasi seluruh kehidupan.
Hidup untuk Allah.
Bekerja untuk Allah.
Belajar untuk Allah.
Mengabdi untuk Allah.
Berdakwah untuk Allah.
Dan bahkan ketika tidak ada manusia yang melihat, tetap yakin bahwa Allah melihat.
⸻
Istiqāmah Setelah Semangat
Tarbiyah sejati bukan hanya membuat seseorang bersemangat ketika berada di dalam majelis.
Tarbiyah harus membuatnya tetap berjalan ketika majelis telah selesai.
Karena ukuran kesungguhan bukan hanya ketika suasana mendukung.
Ukuran kesungguhan justru terlihat ketika:
tidak ada yang mengingatkan,
tidak ada yang memuji,
tidak ada yang mengawasi,
tidak ada yang memberikan penghargaan,
bahkan ketika perjalanan terasa berat.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah…”
(QS. Al-Ahqaf: 13)
Istiqāmah adalah bukti bahwa tarbiyah telah menjadi bagian dari kehidupan.
Bukan hanya menjadi pengalaman.
⸻
UPA Harus Melahirkan Manusia
Pada akhirnya, kita kembali kepada pertanyaan awal:
Untuk apa kita datang ke UPA?
Jawabannya bukan sekadar untuk hadir.
Bukan sekadar untuk belajar.
Bukan sekadar untuk berkumpul.
Bukan sekadar untuk menyelesaikan materi.
Kita datang untuk ditempa.
Kita datang untuk dibersihkan.
Kita datang untuk dikuatkan.
Kita datang untuk diubah.
Dan setelah itu,
kita pulang untuk memberi.
Karena UPA yang berhasil bukan sekadar UPA yang mampu mempertahankan pertemuan.
Tetapi UPA yang mampu melahirkan manusia.
Manusia yang:
hidup ruhiyahnya,
bersih jiwanya,
matang akhlaknya,
jernih fikrahnya,
kuat ukhuwahnya,
disiplin hidupnya,
sehat raganya,
kokoh amanahnya,
ringan khidmahnya,
panjang napas dakwahnya,
dan mampu melahirkan manusia-manusia berikutnya.
⸻
Dari Tazkiyah Menuju Dakwah
Maka perjalanan UPA dapat kita ringkas dalam sebuah rangkaian:
Ta‘līm melahirkan ilmu.
Ilmu yang dihayati melahirkan kesadaran.
Kesadaran melahirkan tazkiyah.
Tazkiyah melahirkan mujāhadah.
Mujāhadah membutuhkan riyāḍah.
Riyāḍah melahirkan kebiasaan.
Kebiasaan membentuk akhlak.
Akhlak melahirkan istiqāmah.
Istiqāmah melahirkan kekuatan.
Kekuatan melahirkan khidmah.
Khidmah melahirkan dakwah.
Dan dakwah melahirkan generasi berikutnya.
Inilah siklus tarbiyah.
Dari hati menuju amal.
Dari amal menuju akhlak.
Dari akhlak menuju khidmah.
Dari khidmah menuju dakwah.
Dan dari dakwah lahirlah manusia-manusia baru yang akan meneruskan perjalanan.
⸻
🌹 Pulanglah Membawa Perubahan
Maka ketika kita pulang dari UPA, jangan hanya membawa catatan.
Bawalah perubahan.
Jangan hanya membawa ilmu.
Bawalah amal.
Jangan hanya membawa semangat.
Bawalah istiqāmah.
Jangan hanya membawa kehangatan ukhuwah.
Bawalah saudara kita bersama-sama menuju Allah.
Jangan hanya bertanya:
“Apa yang saya dapatkan dari UPA hari ini?”
Tetapi biasakan hati bertanya:
“Setelah Allah mentarbiyah saya melalui majelis ini, apa yang harus saya berikan kepada Allah, kepada dakwah, dan kepada manusia?”
Karena sesungguhnya,
kita tidak sedang membangun sebuah pertemuan.
Kita sedang membangun manusia.
Dan manusia-manusia itulah yang kelak membawa nilai-nilai Islam ke tengah keluarga, masyarakat, bangsa, dan kehidupan.
⸻
🌿 EPILOG
Dari Allah kita menerima hidayah.
Dengan tarbiyah kita menjaganya.
Dengan tazkiyah kita membersihkan wadahnya.
Dengan mujāhadah kita memperjuangkannya.
Dengan riyāḍah kita menempa diri untuk memikulnya.
Dengan istiqāmah kita menjaganya tetap menyala.
Dan dengan dakwah kita membawanya kepada manusia.
Kemudian perjalanan itu terus berulang:
dari hati ke hati,
dari jiwa ke jiwa,
dari manusia ke manusia,
dari generasi ke generasi.
Hingga suatu hari kita tidak lagi mampu berjalan.
Namun semoga masih ada manusia-manusia yang dahulu pernah disentuh oleh tarbiyah kita,
yang tetap berjalan.
Yang tetap berdakwah.
Yang tetap berkhidmat.
Yang tetap menghidupkan nilai-nilai kebaikan.
Dan ketika itu terjadi, mungkin kita telah sampai pada salah satu makna terindah dari sebuah perjuangan:
Kita tidak lagi berada di tengah perjalanan, tetapi nilai yang pernah kita tanam masih terus berjalan menuju Allah.
Semoga Allah menjadikan kita bukan sekadar orang-orang yang hadir dalam majelis tarbiyah,
tetapi orang-orang yang berubah karena tarbiyah.
Bukan sekadar menjadi pribadi yang saleh,
tetapi menjadi mushlih yang menghadirkan kebaikan.
Bukan sekadar menjadi penerima hidayah,
tetapi menjadi jalan datangnya hidayah bagi orang lain.
Bukan sekadar menjadi pengikut perjalanan,
tetapi menjadi pelanjut perjalanan.
Dan bukan sekadar meninggalkan nama,
tetapi meninggalkan amal, manusia, dan kebaikan yang terus hidup.
UPA: Dari Tazkiyah Menuju Dakwah.
Menempa Jiwa, Melahirkan Manusia.
⸻
Alfaqier ilā ‘Afwi Rabbih
Dr. H. Najamudin, M.Pd.I.
Dosen Universitas Ibn Khaldun Bogor