Sosok kita kali ini sudah berkarir di berbagai tempat sepanjang hidupnya. Kang Najamudin, panggilan akrabnya. Menyelesaikan S1 di Universitas Pakuan Bogor (1997-2001), S2 dan S3 di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor. Lulus doktoral tahun 2020. Kini, pada kepengurusan alumni KAMMI, menempati posisi Ketua Wilayah KAKAMMI Se-Bogor Raya.
“KAKAMMI di Bogor Raya masih aktif walau lebih banyak bertegur sapa lewat group WA,” ungkapnya. Kiprah sosok dengan tampilan Ustaz ini, adalah seorang politikus, dosen serta menjadi salah satu direktur rumah sakit di Bogor. Masih cukup aktif menjalani kehidupan itu semuanya. Selaras motto hidupnya "Waktu adalah kehidupan, maka janganlah kamu menyia-nyiakannya,” pesannya yang menjadikannya berusaha selalu punya kiprah terbaik dalam kehidupan.
Sebelum kisah kiprahnya dihadirkan, dulu di KAMMI berperan sebagai apa?
”Saya gabung KAMMI tahun 1998, saat itu sebagai Ketua Komsat Universitas Pakuan Bogor. Waktu itu saya dilantik sebagai ketua komsat diundang semua dosen termasuk dosen saya, sehingga hebohlah se-kampus. Karena zamannya sering demo, ketika ada matakuliah terus pager (alat komunikasi waktu itu) nyala, saya izin untuk demo saking seringnya pager nyala. Dosen bilang, wahhh panggilan demo nih , silahkan diizinkan untuk demo,” ceritanya mengenangkan.
Waktu terus berjalan. Dunia pasca kampus menyapanya.
Di bidang sosial politik kiprahnya berjejer. Kiprah di DPP PKS menjadi Sekretaris Departemen Kesejahteraan Sosial, Ketua KAKAMMI Bogor Raya, Wakil Ketua DPP Gema Keadilan, Ketua Koni Kota Bogor, Ketua Bidang Pendidikan dan Pengkajian ICMI Jawa Barat. Begitu juga, kiprahnya di politik tak diragukan lagi, pernah berkiprah sebagai anggota dewan 3 periode 2004-2019.
Di bidang pendidikan. Dosen FAI Univ Ibn Khaldun Bogor, Ketua Yayasan Universitas UMMI Bogor. Menyoroti generasi muda, khususnya mahasiswa, cukup optimistis melihat para mahasiswanya. Hanya saja, kalau melihat secara keseluruhan, memang masih ada pemandangan yang cukup memprihatikan.
“Hanya saya menyoroti masalah akhlak atau adab yang rasa-rasanya masih rendah, kecenderungan mahasiswa yang sangat bergantung dengan gadget. Begitu juga, ini yang paling mengkhawatirkan, pergaulan bebas,” katanya.
Sementara, di bidang lainnya sebagai Direktur SDM RS UMMI Bogor tetap sebagai rutinitas yang tentu juga dijalaninya dengan sepenuh hati. Kalau mendengar RS UMMI sendiri sempat ramai dibicarakan saat terjadinya Covid-19 lalu. Saat itu Direktur Utama RS Ummi, Bogor, dilaporkan ke polisi. Dia dilaporkan Satgas COVID-19 Kota Bogor karena dinilai menghalang-halangi upaya Satgas melakukan swab test terhadap Habib Rizieq yang dirawat di rumah sakit tersebut. Terlepas dari kasus itu, nama RS UMMI menjadi dikenal publik. Kini, dirinya masih bergabung dan berkiprah di rumah sakit ini.
Apakah dengan peran-peran di atas, karirnya masing-masing tak terganggu. Misalnya di dunia politik sekaligus menjadi dosen misalnya.
“Alhamdulillah nggak karena Universitas Ibn Khaldun sendiri didirikan oleh para pejuang politik seperti,” terangnya. Jadi tak masalah dosen berkiprah di dunia politik. Itulah sedikit kiprahnya. Sampai kini dirinya mengaku terus membuka diri atas kolaborasi dan kiprah-kiprah terbaik para alumni KAMMI di Indonesia, lebih khusus Se-Bogor Raya.
Bersama membangun masa depan melalui pendidikan, kepemimpinan visioner, dan pengabdian untuk masyarakat.