Guru, Garda Depan Melawan Radikalisme di Sekolah

Sekolah, dalam pandangan banyak orang, adalah tempat paling aman bagi anak-anak. Namun belakangan, kita dibuat resah oleh fakta bahwa benih radikalisme bisa tumbuh bahkan di ruang kelas. Bukan karena kurikulumnya yang salah, tapi karena ada celah kosong: kurangnya penguatan nilai dan pendampingan spiritual yang moderat.

Di sinilah guru berperan penting.
Lebih dari sekadar pengajar, guru adalah pembentuk jiwa dan penjaga nalar muridnya. Di tangan guru, pelajaran agama bisa jadi penerang — atau bisa pula menjadi api yang membakar jika tidak disampaikan dengan hikmah.

Radikalisme masuk lewat celah ideologis

Radikalisme sering menyusup lewat pemahaman agama yang sempit, eksklusif, dan kaku. Anak-anak yang masih mencari jati diri sangat rentan diseret dalam narasi “kami vs mereka”, “benar vs sesat”, dan “syahid vs kafir”. Bahasa yang awalnya mengajak berubah menjadi menghasut.

Guru agama dan guru umum harus waspada. Bukan paranoid, tapi bijak. Pendidikan agama tidak boleh mengajarkan kebencian, bahkan terhadap mereka yang berbeda keyakinan.

Islam tidak pernah mengajarkan radikalisme.
Nabi Muhammad SAW adalah guru terbaik yang mendidik dengan kelembutan. Bahkan terhadap musuhnya, beliau tidak pernah mengajarkan dendam, tapi doa dan pengampunan.

Tugas Guru Zaman Ini

  1. Menjadi teladan toleransi.
    Ucapan guru tentang perbedaan sangat membekas. Murid akan meniru cara guru memandang non-Muslim, kelompok lain, bahkan sesama Muslim yang berbeda pendapat.
  2. Membuka ruang diskusi sehat.
    Anak-anak tidak boleh hanya dijejali dogma. Mereka perlu ruang untuk bertanya, mengkritik, dan berdialog. Di sinilah nalar mereka terasah dan imun terhadap propaganda.
  3. Mengintegrasikan nilai damai dalam semua pelajaran.
    Pelajaran Matematika bisa mengajarkan kejujuran. IPS bisa mengajarkan empati. Bahasa bisa menjadi alat komunikasi yang santun. Setiap guru adalah pendidik karakter, bukan hanya penyampai konten.
  4. Mendeteksi dini perubahan perilaku siswa.
    Jika ada siswa yang mulai tertutup, tidak toleran, atau menunjukkan sikap ekstrem — guru adalah yang paling mungkin melihatnya lebih awal. Jangan tunggu sampai terlambat.

Sekolah Ramah Akal dan Jiwa

Sekolah hari ini bukan hanya harus ramah anak, tapi juga ramah akal dan jiwa. Ramah akal artinya mendorong siswa berpikir kritis, tidak asal menerima. Ramah jiwa artinya menguatkan nilai kasih sayang, empati, dan moderasi.

Radikalisme tidak akan tumbuh di sekolah yang membangun logika sehat dan hati yang lembut.


Penutup

Wahai guru,
Engkau bukan hanya pembuka jendela ilmu,
Tapi juga penjaga generasi dari kabut kebencian.
Engkau bukan hanya pengajar,
Tapi pengarah — agar muridmu berjalan di jalan damai.

Mari kita rawat kelas-kelas kita…
Agar tak hanya jadi tempat belajar,
Tapi juga tempat bertumbuhnya akhlak, cinta, dan perdamaian.

Dr. H. Najamudin, M.Pd.I
Dosen Pendidikan Agama Islam
Universitas Ibn Khaldun Bogor
Universitas UMMI Bogor

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *