Ketika mendengar kata radikalisme, pikiran kita langsung tertuju pada ajaran yang salah, interpretasi agama yang menyimpang, atau fanatisme yang membabi buta. Tidak salah, tapi juga tidak cukup. Radikalisme bukan hanya soal salah paham terhadap agama—tapi lebih dalam dari itu: soal pencarian makna hidup yang tidak terjawab.
Bayangkan seorang anak muda yang merasa hidupnya kosong, tidak dihargai, tak punya arah, dan tidak merasa berarti. Di tengah kehampaan itu, datang seseorang (biasanya lewat media sosial) yang menawarkan “kebenaran mutlak”, “perjuangan suci”, dan “tujuan hidup yang heroik”.
Maka tersedotlah dia, bukan karena ingin membenci, tetapi karena merasa akhirnya punya makna.
Kita Sedang Menghadapi Krisis Makna
Di era digital, anak muda dijejali segalanya—konten, tren, dan berita—tapi tidak dibekali arah dan nilai. Sekolah sibuk mengejar nilai, orang tua sibuk dengan pekerjaan, dan media lebih tertarik pada sensasi. Di tengah itu, tak heran jika sebagian anak muda kehilangan makna, lalu mencarinya di tempat yang salah.
Maka tugas kita bukan hanya melawan radikalisme, tapi membentengi jiwa-jiwa muda agar tidak kehilangan makna.
Caranya?
1. Ajak mereka berpikir, bukan hanya menghafal.
Jangan suruh anak-anak kita sekadar menghafal ayat atau pelajaran. Ajak mereka memahami maknanya. Buka ruang diskusi. Biarkan mereka bertanya dan berdialog. Anak yang diberi ruang berpikir, akan lebih kuat menghadapi propaganda.
2. Bangun hubungan, bukan hanya aturan.
Anak muda butuh didengarkan. Jangan hanya memberi larangan. Jadilah teman bicara. Dalam hubungan yang hangat, anak akan terbuka. Dan saat mereka terbuka, kita bisa mengarahkan sebelum dunia luar menariknya.
3. Tunjukkan Islam yang hidup.
Islam bukan hanya soal syariat, tapi juga rahmat. Islam bukan hanya hukum, tapi juga hikmah. Tunjukkan bahwa Islam adalah agama kasih, damai, toleran, dan memanusiakan manusia. Bukan Islam yang galak dan menghukum, tapi Islam yang menumbuhkan dan membimbing.
4. Isi hidup dengan proyek kebaikan.
Berikan anak muda misi sosial. Ajak mereka aktif di masjid, mengajar anak jalanan, atau membantu tetangga yang kesulitan. Saat mereka merasa berguna, mereka tidak akan mencari pelarian di ideologi kebencian.
Penutup
Radikalisme memang bahaya, tapi kosongnya makna hidup adalah bahaya yang lebih awal.
Mari kita isi ruang-ruang jiwa itu dengan cinta, nilai, dan cahaya.
Agar mereka tidak mencari api di luar—karena kita lupa menyalakan pelita di dalam rumah.
Dr. H. Najamudin, M.Pd.I
Dosen Pendidikan Agama Islam
Universitas Ibn Khaldun Bogor
Universitas UMMI Bogor